Selasa, 20 Mei 2014

Allah Menyukai Pernikahan Dini, Mengapa Orang Tua Masih Ragu Untuk Menikahkan Putra-Putri Mereka ?



Ayahku Melarangku Untuk Menikah
Karakter utama yang mewarnai hampir setiap masyarakat adalah suka meniru dan gemar menyamakan kasus. Padahal hal demikian itu suatu kekeliruan. Agama Islam sudah memiliki aturan baku yang berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh dan tidak mudah terombang-ambing. Jadi untuk apa meniru orang lain? Agama Islam justru menggalakkan pernikahan pada usia muda, karena hal itu jelas mendatangkan banyak berkah dan kebaikan, serta mencegah banyak perkara. Allah Subhanahu Wata’ala lebih memahami ciptaan-Nya, maka berpegang teguhlah dengan wasiat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Menikahlah kalian dengan para wanita, karena mereka akan mendatangkan untuk kalian harta. (HR. Al Hakim 2679, dan beliau mengatakan hadis ini shahih)
Seandainya pernikahan di usia muda itu mengandung kejelekan, niscaya syariat Islam yang suci tidak akan menggalakkannya. Apalagi dalam kaidah hukum Islam disebutkan, bahwa setiap perkara yang Allah Subhanahu Wata’ala perintahkan berarti hal tersebut disukai dan diredhainya. Sedangkan setiap perkara yang mendatangkan kerugian dan bahaya  pasti diharamkan.
jadi kalau memang Allah menyukai pernikahan dini, yang merupakan pasangan usia subur dan produktif, mengapa orang tua masih ragu untuk menikahkan putra-putri mereka? Apalagi banyak pandangan menyedihkan di masyarakat akibat tertundanya pernikahan. Padahal hanya pernikahanlah yang mampu memelihara kehormatan dan menjaga eksistensi masyarakat itu sendiri. Maka jangan hanya karena alasan kuliah atau kerja, lantas orang tua menunda putra-putrinya menikah. Bukankah yang demikian merupakan perbuatan yang bisa mengundang fitnah dan murka Allah Subhanahu Waa’ala? 

Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsudin ” Muda, Nikah, Bahagia!” hal 70-71
 

Jumat, 11 April 2014

Pemuda Yang Menikahi Wanita “Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh"



Seorang lelaki yang soleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lazat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meninta dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah ku makan ini.”Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku kerana tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Kerana itu mahukah tuan menghalalkan apa yang sudah ku makan itu?”

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu kerana takut ia tidak dapat memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah kerana hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?”

Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berfikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak boleh menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkahwinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya kerana aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkahwinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, kerana bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu”alaikum…”

Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut kerana wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahawa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berfikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahawa engkau buta. Mengapa?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahawa engkau tuli, mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah mahu mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah.

Ayahku juga mengatakan kepadamu bahawa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu kerana dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh kerana kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang boleh menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat soleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang isterinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan isterinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikurniakan seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia, Beliau adalah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.


Subhanallah..

Jumat, 04 April 2014

5 Alam Yang Akan Dilalui Oleh Manusia




1.   Alam Ruh yaitu alam arwah di mana di alam inilah Allah menciptakan ruh-ruh manusia.
2.   Alam rahim yaitu alam kandungan. Di sinila manusia diciptakan, ditentukan batas usianya, jodohnya, matinya, bahagia atau susahnya, rizkinya. Di alam ini pula Allah menciptakan bentuk rupa dan meniupkan ruhnya. Saat ini manusia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima keputusan Allah dengan ridha. Maka pada saat di alam rahim inilah peran kedua orang tua sangat urgen sekali. Karena itu, orang tua dianjurkan untuk memperbanyak amal shaleh agar sang jabang bayi kelak menjadi anak yang shaleh, taqwa, beriman, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
3.   Alam dunia yaitu alam imtihan (ujian). Di alam inilah setiap manusia akan diuji menurut kadar keimanan dan ketaqwaannya. Semakin tinggi maqom keimanan dan ketaqwaan seseorang, maka semakin besar pula bentuk ujiannya dan sebaliknya. Ini bertujuan untuk mengetahui siapkah yang paling baik amalnya, orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh, orang-orang yang sabar, dan orang-orang yang durhaka. Dunia juga dinyatakan oleh Allah sebagai tempat sendau gurau dan permainan. Karena itu, siapa yang larut dalam dunia, maka dia harus siap untuk dipermainkan dan memperoleh kekecewaan yang tiada berujung. Intinya, di dunia manusia dituntut untuk mencari bekal ahirat sebanyak-banyaknya dengan amal shaleh dan beribadah.
4.   Alam barzakh atau alam kubur, yaitu alam penantian di mana setiap orang yang telah meninggal akan mengalami azab atau nikmat kubur. Di alam ini mereka seperti orang yang tenggelam dalam lautan yang tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya pertolongan orang lain yang dibutuhkan bukan harta, kedudukan, emas permata, dan perhiasan hidup. Amal shaleh, ilmu yang bermanfaat, anak yang shaleh yang dapat menyelamatkan dia dari azab kubur dan mengundang rahmat Allah selama masa penantian. Sungguh sengsara mayat yang selama hidup lalai dan lupa daratan hingga datang ajal menjemputnya. Sungguh beruntung orang yang selama hidup bersusah payah berjuang untuk mendapatkan rahmat dan berkah kehidupan alam barzah. Ingatlah, bahwa amal shaleh akan berwujud sosok rupawan yang mendampingi dia selama masa penantian dan amal buruk akan berwujud sosok yang menjijikan dan menakutkan yang menemani dia selama masa penantian. Jadikan hidup untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya di alam barzakh ini.
5.   Alam akhirat, yaitu alam kekekalan dan alamul jaza’ (pembalasan amal manusia). Di alam inilah manusia akan dibalas setimpal dengan perbuatannya selama hidup di dunia. Tidak sedikitpun amal yang terlupakan, terabaikan, kecuali semua akan diperhitungkan. Kehidupan alam akhirat itu jauh dan jauh lebih panjang dan kekal dari pada dunia yang fana ini. Orang yang mengetahui masa depan, pastilah dia akan memperhitungkan dengan seksama, teliti, dan memperioritaskan alam keabadian ini dengan menjadikan semua langkah dan perbuatannya untuk menggapai ridha-Nya. Rahmat Allah, ridha-Nya, dan ampunan-Nya sangat berarti sekali bagi setiap manusia saat memasuki alam ini. Manusia saat ini sungguh tidak berdaya dan hanya menunggu kepastian Allah apakah dia akan dimasukkan ke dalam neraka atau akan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Dan yang menentukan adalah amalnya sewaktu hidup di dunia ini. Di dunia ini waktu terus bergulir sesuai dengan perputaran waktu. Tak pernah berhenti sedetikpun dan tak akan pernah kembali untuk mengulangi memori masa lalu. Karena itu, sekali waktunya kosong tak berisi dengan sesuatu yang bernilai di sisi Allah, maka sungguh ia akan rugi telah menyia-nyiakan waktunya. Penyesalan akan menghampiri orang yang terang penglihatannya pada perhiasan dunia dan kabur dengan kehidupan ahirat. Karena yang menentukan selamat, bahagia, diampuni, diberkahi, dan dirahmati atau diazab, disiksa, sengsaranya seseorang itu tergantung amalnya sewaktu di dunia, maka seyogyanya manusia harus berusaha dengan segenap potensi yang dimilikinya untuk memetik buah esok kelak. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya hingga kita sampai pada alam yang terahir ini dalam keadaan selamat, sentausa, bahagia, diridhai, diampuni dosa-dosa kita dan dimasukkan kedalam surga-Nya. Amiin.
Wallahu a’lam.

Rabu, 02 April 2014

Sunnah Sunnah Rasulullah SAW Yang Terlupakan.


1. Mendahulukan kaki Kanan saat memakai sandal dan kaki kiri saat melepasnya.
2. Menjaga dan memelihara wudhu.
3. Bersiwak (menggosok gigi dengan kayu siwak)
4. Shalat istiqarah
5. Berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung dalam satu cidukan telapak tangan ketika berwudhu.
6. Berwudhu sebelum tidur dan tidur dengan posisi miring kekanan.
7. Berbuka puasa dengan makanan ringan.
8. Sujud syukur saat mendapatkan nikmat atau terhindar dari bencana.
9. Tidak begadang dan segera tidur selesai shalat isya.
10. Mengikuti bacaan muadzin
11. Berlomba-lomba untuk mengumandangkan adzan,bersegera menuju shalat,serta berupaya untuk mendapatkan shaf pertama.
12. Meminta izin tiga Kali ketika bertamu.
13. Mengibaskan seprai saat hendak tidur.
14. Meruqyah diri dan keluarga
15. Berdoa saat memakai pakaian baru.
16. Mengucapkan Salam kepada semua orang Islam termasuk Anak kecil.
17. Berwudhu sebelum Mandi besar (Mandi junub)
18. Membaca Aamiin dengan suara keras saat menjadi makmum
19. Mengeraskan suara saat membaca dzikir setelah shalat
20. Membuat pembatas saat sedang shalat fardhu atau shalat sunah.

Rabu, 26 Maret 2014

Cara Kesembuhan Dengan Sedekah Al-Fatihah

Begitu berat cobaan dan musibah yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan kepada hambaNya, tetapi wajiblah kita selalu bersyukur atas segala nikmat yang kita terima baik dalam nikmat sehat ataupun nikmat sakit. Ketika kita ditimpa sebuah musibah, hati dan perasaan kita seolah-olah dekat dengan Allah Subhanahu wa ta'ala. Mudah-mudahan kita juga selalu merasakan dekat dengan Allah Subhanahu wa ta'ala dikala sehat.
Mungkin anda pernah melihat saudara muslim kita yang tertimpa musibah, namun apa daya kita tidak mampu menolong sadara muslim dengan materi. Tapi rasa keinginan kita untuk menolong sangat besar agar meringankan beban saudara muslim kita. Nah .... ada salah satu cara untuk memberikan bantuan yang paling mudah, bahkan lebih istimewa dibandingkan dengan bantuan materi. apa itu...? " Doa Kesembuhan Dengan Sedekah Al Fatihah ".
Adapun surah Al-Fatihah bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tubuh atau badan, dan di dalamnya terkandung at-tauhid, penyerahan diri kepada Allah, sanjungan dan pujian terhadap Allah, di dalamnya terdapat nama-nama Allah Subhanahu wa ta'ala yang baik, nama Allah Subhanahu wa ta'ala yang dapat menghilangkan segala kejelekan dan dapat mendatangkan segala kebaikan.
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, dan penawar (obat) bagi (penyakit) yang ada di dalam dada, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Yunus : 57] ; “Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sesuatu yang jadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan bagi orang-orang yang zhalim tetap bertambah merugi” [al-Isra’ : 72] ; “Katakanlah, al-Qur’an itu sebagai petunjuk dan penawar (obat) bagi orang yang beriman” [Fusshilat : 44].
Tidak ada sesuatupun yang tidak mampu dilakukan oleh-Nya. Dan bahwasanya Allah adalah sandaran dan tempat memulangkan urusan seluruh makhluk. Tidak ada tempat kembali dan menyelamatkan diri dari siksa-Nya kecuali kepada-Nya. Kepada-Nya lah tempat untuk melarikan diri. Dia lah yang menjadi tumpuan segala makhluk untuk memenuhi berbagai kebutuhan, permintaan, dan harapan mereka. Apabila dia telah menyadari itu semua, maka wajib atasnya untuk tidak memulangkan permasalahan kecuali kepada-Nya. Tidak memohon kebutuhan kecuali dari-Nya. Tidak memalingkan ibadah kecuali kepada-Nya. Tidak memohon pertolongan kecuali kepada-Nya. Dan tidak akan bertawakal kecuali hanya kepada-Nya
itulah salah satu tips untuk membantu saudara muslim kita ketika di timpa musibah, terutama sedang menderita sakit. Yang terpenting ketika memberikan Doa Kesembuhan Dengan Sedekah Al Fatihah diiringi rasa ikhlas dan keyakinan jika hanya Allah Subhanahu wa ta'ala yang bisa menyembuhkan penyakit.

Sabtu, 22 Maret 2014

10 Jenis Shalat Yang Tidak Di Terima Oleh ALLAH S.W.T


Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamatdan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya." (Tabyinul Mahaarim)

Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : "10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antara lain :

1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.
2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.
4. Orang lelaki yang melarikan diri.
5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya(Taubat).
6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.
7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.
8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
9. Orang-orang yang suka makan riba'.
10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar."

Sabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa yang solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah."

Hassan r.a berkata : "Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan solat.Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk."