Minggu, 20 Juli 2014

Kisah Perang Para Malaikat




Pada bulan Shafar, awal bulan ke-12 sejak hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam (Saw) ke Madinah, untuk pertama kalinya Rasulullah Saw keluar dengan tujuan berperang. Peperangan ini dikenal dengan sebutan Perang Widan. Inilah permulaan disyariatkannya sebuah peperangan dalam Islam.
Perang ini bertujuan memerangi kaum Quraisy dan Bani Hamzah. Sayangnya, meski persiapan sudah matang, peperangan tak sempat berkecamuk. Sebab, Bani Hamzah menawarkan perdamaian. Rasulullah Saw bersama para sahabat kemudian kembali ke Madinah.

Selang beberapa saat, Rasulullah Saw mendengar berita kedatangan kafilah kaum Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb dari Syam. Kafilah ini menuju Mekah.

Abu Sufyan adalah musuh kaum Muslim. Mengingat dulu, saat kaum Muslim masih berada di Mekah, harta mereka banyak yang dirampas oleh kafir Quraisy, maka Rasulullah memerintahkan untuk mencegah iring-iringan kafilah tersebut dan merampas barang bawaan mereka sebagai gantinya.

Anjuran Rasulullah Shalallahu Alayhi Wa Salam ini hanya disambut oleh sebagian kaum Muslimin di Madinah. Mereka menyangka, seperti halnya pada Perang Widan, tak bakal terjadi peperangan.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, berangkatlah sekitar 314 orang Muslim, langsung dipimpin Rasulullah, dengan membawa 70 ekor unta. Setiap unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang.

Rencana penyerangan ini bocor. Abu Sufyan, setelah mendengar rencana penghadangan ini, segera mengutus seorang kurir bernama Dhamdham bin Amer Al Ghiffari ke Mekkah untuk meminta bantuan kaum Quraisy. Ia khawatir harta kekayaan yang sedang ia perniagakan direbut oleh kaum Muslim.

Demi mendengar berita dari utusan Abu Sufyan, seluruh kaum Quraisy dengan serta merta menyiapkan diri lalu berangkat meninggalkan Mekah menuju Madinah dengan tujuan berperang. Tak seorang pun dari tokoh Quraisy yang tertinggal. Jumlah pasukan kira-kira 1.000 personil.

Awalnya, pasukan Muslim tak mengetahui keberangkatan bala bantuan tersebut. Sementara iring-iringan kafilah Abu Sufyan telah berhasil meloloskan diri dengan menyusuri mata air Badar, terus ke pantai, lalu menuju Mekkah.

Setelah mengetahui rencana penghadangan gagal dan bala tentara Quraisy dalam jumlah besar akan menyerbu kaum Muslim, Rasulullah Saw segera mengumpulkan para sahabatnya kaum Muhajirin. Dalam keadaan tak memiliki pilihan lain kecuali berperang untuk mempertahankan diri, Rasulullah Saw masih sempat meminta dukungan kepada para sahabatnya.

Ternyata, meski jumlahnya sedikit, semangat kaum Muhajirin untuk berjihad tetap menyala. Apalagi, perang sudah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala (Swt).

Kaum Quraisy, di bawah pimpinan Abu Jahal, mulai berjalan ke arah lembah Badar. Lembah ini memang sejak lama diincar oleh Abu Jahal untuk diduduki. Mereka bergerak sampai ke salah satu sisi lembah Badar.

Sedangkan pasukan Muslim, dipimpin Rasulullah Saw, tiba di pinggir yang berseberangan. Posisi mereka nyaris berhadap-hadapan di dekat mata air Badar.

Salah seorang sahabat, Al Habab bin Mundzir Radhiyallahu 'anhu (Ra), bertanya kepada Rasul Saw, ''Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini Anda menerima wahyu dari Allah Swt yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan taktik peperangan?''

Rasulullah Saw menjawab, ''Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan taktik peperangan!''

Al Habab mengusulkan, ''Ya Rasulullah! Jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan persediaan air minum cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum!''
Rasulullah Saw menjawab, ''Pendapatmu cukup baik!'' Lalu, pasukan Muslim bergerak ke tempat yang diusulkan oleh Al Habab bin Mundzir Ra.
Ketika tentara musyrik Quraisy dengan angkuhnya maju menuju lembah Badar, Rasulullah Saw segera mengangkat tangannya ke langit, seperti dilakukan oleh Nabi-nabi Bani Israil, dan berdoa, ''Ya Robbi! Jika pasukan kecil ini sampai binasa, tidaklah akan ada lagi yang menyembahMu dengan hati yang ikhlas!''

Rasul Saw terus memanjatkan doa kepada Allah Swt dengan khusyuk seraya menengadahkan kedua telapak tangan ke langit.

Abu Bakar Ash Shidiq Ra, yang melihat kesedihan di wajah Rasulullah Saw, berusaha menenangkan hati junjungannya itu seraya berkata, ''Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah! Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu!''

Lalu, tiga orang Quraisy maju ke lapangan terbuka yang memisahkan kaum Muslim dan kaum Quraisy. Inilah kebiasaan orang Arab saat pertempuran akan dimulai: duel satu lawan satu. Tiga sahabat Rasul Saw, Hamzah, Ali bin Abu Thalib --dengan pedang bercabang dua yang diberi nama Zulfikar-- dan Abu Ubaidah, menerima tantangan itu.

Pertarungan berlangsung seru. Akhirnya, Hamzah, Ali, dan Abu Ubaidah, memenangkan pertarungan. Dengan kemenangan ini semangat kaum Muslim semakin membara. Sebaliknya, kaum Quraisy semakin ketakutan.

Pertarungan pun kemudian berubah menjadi pertarungan umum. Dan, benarlah Abu Bakar Ash Shidiq Ra bahwa Allah Swt tak pernah mengingkari janji-Nya.

Tertulis dalam Al-Qur`an surat Ali Imran ayat 3, yang artinya, ''Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.''

Juga pada surat yang sama ayat 123 hingga 126, ''Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu menjadi orang yang bersyukur. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mu'min, 'Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.' Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.''

Orang Mekah berhasil dipukul mundur. Mereka menderita kekalahan besar. Banyak pemimpin mereka yang tewas.  Abu Jahal, salah satunya, jatuh sebagai korban kesombongannya yang tidak terkendalikan.

Dari pihak kaum musyrik, terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang. Sedangkan dari pihak kaum Muslim gugur sebagai syuhada 14 orang.

Tentara musyrik yang tertawan itu diperlakukan secara baik oleh kaum Muslim, kecuali dua orang, salah satu dari keduanya adalah Nazr bin Harits –seperti tertulis dalam Al-Qur`an surat Al Anfal ayat 32. Keduanya dihukum mati karena kebenciannya yang sangat kepada kaum Muslim.

Sementara tawanan yang lain diperlakukan dengan rasa kemanusiaan yang amat besar. Atas perintah Rasulullah Saw, mereka tak boleh disakiti. Bahkan, kaum Muslim membagi makanannya sendiri kepada para tawanan itu. Roti yang paling baik diberikan kepada kaum kafir yang malang, sementara kaum Muslim cukuplah menyantap buah korma saja. Para tawanan naik kendaraan, sementara pasukan Muslim hanya berjalan kaki. Mereka benar diperlakukan layaknya seorang tamu. [Sahid hidayatullah]

Sabtu, 19 Juli 2014

Pelajaran Berharga Perang Badar




Perang Badar adalah perang besar pertama kaum muslimin melawan kafir Quraisy. Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriah bertepatan dengan 17 Maret 624 Masehi. Ketika itu kekuatan kaum muslimin hanya berjumlah 314 orang sedangkan kaum kafir Quraisy mencapai 1.000 orang.

Sebelum perang besar ini pecah, telah terjadi banyak pertikaian kecil antara kaum muslimin Madinah dengan orang-orang kafir Makkah. Salah satunya perang Widan yang berakhir dengan perdamaian.
Setelah Rasulullah Saw mendapat kabar, bahwasannya kafilah Abu Sufyan akan melewati jalur Madinah dalam perjalanan dagangnya dari Suriah menuju Mekkah. Beliau  segera memerintahkan kaum muslimin agar mengumpulkan pasukan untuk menghadang kafilah dagang tersebut.

Rasulullah melakukan itu karena kafilah dagang Abu Sufyan merupakan orang-orang kafir harbi yang terang-terangan memerangi Islam sejak dahulu. Mereka sering menjarah harta benda kaum muhajirin ketika di Makkah dahulu. Mereka juga menganiaya dan membunuh orang-orang yang baru masuk Islam.

Dalam perjalanannya, apa yang telah direncanakan Rasul Saw berbeda dengan kehendak Allah Swt. Allah Swt ingin Rasul Saw dan kaum muslimin mendapat kemenangan yang lebih besar ketimbang hanya sekedar mendapat harta dari kafilah dagang Abu Sufyan.

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal [8]: 7).

Akhirnya dengan takdir ini kafilah dagang Abu Sufyan dapat lolos dari sergapan Rasul Saw dan pasukan kaum muslimin. Sehingga mereka dapat memberi kabar kepada para pemimpin kafir Mekkah bahwa ummat Islam sedang mengejar mereka.

Dalam waktu singkat Abu Jahal dan kawan-kawannya dapat mengumpulkan kekuatan hingga 1.000 orang lengkap dengan persenjataan perang dan kendaraannya. Dan segera berangkat menuju Badar tanpa diketahui oleh pasukan kaum muslimin.

Setelah pasukan Abu Jahal hampir tiba di Badar, barulah  pasukan kaum muslimin tahu bahwa yang sedang ia hadapi bukanlah kafilah dagang Abu Sufyan yang berjumlah tidak sampai seratus orang melainkan sebuah pasukan perang yang sangat besar.

Dengan langkah cepat Rasulullah Saw dan para sahabat segera menggelar rapat karena ketika itu masih ada kemungkinan untuk mundur. Setelah lama berdiskusi, musyawarah pun mencapai kata mufakat. hasil rapat memutuskan bahwa mereka harus maju berperang melawan kesombongan pasukan Abu Jahal.

Keputusan itu disambut oleh pasukan kaum muslimin. mereka sangat setia kepada Rasulullah Saw walaupun hati merasa enggan untuk berperang mengingat ketidak siapan mereka dan juga personil musuh yang tiga kali lipat jumlahnya.

Pada tanggal 17 Maret bertemulah kedua pasukan tersebut di lembah Badar. Pertempuran ini dimulai dengan pertunjukan gulat tiga lawan tiga. Kaum muslimin yang diwakili oleh Ali, Ubaidah dan Hamzah mampu mengalahkan tiga perwakilan kaum kafir Mekkah.

Setelah itu peperangan pun berkecamuk, kedua belah pihak saling menyerang. Dikisahkan bahwa pasukan kaum muslimin tak berdaya melawan gempuran musuh. Hampir-hampir saja mereka kalah. Namun berkat kedisiplinan pasukan dan juga do’a yang tiada henti-hentinya dipanjatkan oleh Rasul Saw, akhirnya Allah Swt mengirimkan bala bantuan berupa Malaikat yang sangat banyak.

Seperti yang tertulis dalam firman-Nya, “(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang secara bergelombang.” (QS. al-Anfal [8]: 9).
Akhirnya tepatlah janji Allah Swt. Peperangan yang berkecamuk hanya beberapa jam saja dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Pasukan kafir tercerai berai dan lari tunggang langgang.

Imam Bukhori memberikan keterangan bahwa pasukan yang tewas dari pihak kafir Mekkah sebanyak tujuh puluh orang dan yang tertawan berjumlah tujuh puluh orang. Sedangkan dari pihak muslim sebanyak 14 orang mati syahid.

Selain mendapat tawanan yang sangat banyak, ummat Islam juga mendapatkan harta rampasan perang yang berlimpah. Kemenangan ini dalam sekejap mengubah status Rasul Saw sebagai seorang buangan dari Makkah, menjadi salah seorang pemimpin utama yang patut diperhitungkan.

Mengenai hal ini Karen Armstrong berkomentar, “Selama bertahun-tahun Muhammad telah menjadi sasaran pencemoohan dan penghinaan; tetapi setelah keberhasilan yang hebat dan tak terduga itu, semua orang di Arabia mau tak mau harus menanggapinya secara serius.”

Marshall Hodgson juga menambahkan bahwa peristiwa di Badar memaksa suku-suku Arab lainnya untuk menganggap umat Muslim sebagai salah satu penantang dan pewaris potensial terhadap kewibawaan dan peranan politik yang dimiliki kaum Quraisy.

Hikmah lain dari kemenangan perang Badar ini adalah posisi kepemimpinan Rasulullah Saw semakin kuat di Madinah.  Beliau dapat mengeluarkan salah satu suku Yahudi yang sering mengancam kedudukan politiknya di Madinah, yaitu Bani Qainuqa.
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216). [Azam/Islampos]
 

Selasa, 27 Mei 2014

Memilih Teman Seperjalanan Di Alam Barzakh


Firman Allah SWT :”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Ali Imran 104:105).
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. (Hadist Riwayat Tabrani)
Memilih Teman Seperjalanan di Alam Barzakh
Seperti anda ketahui, di dalam hidup ini, Islam menawarkan dua pilihan, yaitu, jalan menuju Allah Swt, dan jalan menuju setan. Kita disuruh memilih, jalan mana yang kita kehendaki. Al Qur’an sendiri menegur kita “Fa ayna tadzhabun?” (Hendak pergi kemana kalian ini?) QS.81:26. Pertanyaan ini merupakan peringatan buat semua orang. Tetapi Nabi Ibrahim menjawab pertanyaan tsb sbb:
Dan Ibrahim berkata:“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS. 37:99)
Dalam ayat lain dikatakan : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan”. (QS. 90:10)
Yaitu jalan menuju Allah Swt dan jalan menuju selain Allah Swt. Bahkan sering kali kita temukan di dalam Al Qur’an ungkapan yang menganjurkan agar kita berjalan mengikuti orang-orang yang berjalan menuju Tuhan.
…… dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)
Dunia utama yang harus dia tinggalkan adalah dirinya sendiri. Para ahli tafsir mengartikan ayat, Barang siapa yang keluar dari rumahnya (QS. 4:100), dalam dua makna; makna batin dan makna lahir. Makna lahir dari ayat ini, berkenaan dengan para sahabat Nabi Saw., yang meninggalkan rumahnya di Makkah menuju Madinah.
Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa ayat itu berkenaan dengan orang tua yang sakit, yang ikut hijrah kemudian mati di perjalanan. Pada waktu itu, ketika sahabat lain sudah hijrah dia masih tinggal di Makkah. Kemudian turun ayat yang menegur orang yang tinggal di Makkah dan tidak mau hijrah.
Dan kalau mereka mati, malaikat akan mengecam mereka yang tidak mau berhijrah. Al Qur’an Al Karim mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, (QS. 4:97)
Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), (QS. 4:98)
Orang sakit dan tua ini mengatakan, “Saya ini tidak termasuk orang yang dikecualikan dalam ayat ini karena saya mempunyai bekal dan saya punya orang yang tahu jalan, hanya saja saya sakit. Oleh karena itu, angkutlah saya, bawa saya berhijrah.” Kemudian oleh keluarganya, ia dibawa ke Madinah. Sampai kemudian di suatu tempat yang bernawa Tawin, orang itu meninggal dunia. Kemudian turun ayat :
……Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)
Itulah makna lahir dari ayat ini.
Seperti yang pernah disebutkan dalam hadis Nabi, “Barang siapa yang meniti (salaka) jalan menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah.”
Ada sebuah nasihat yang dapat kita ambil dari seoarang ulama, dan sufi besar pendiri sebuah tarekat, bernama Syaikh Najmuddin Al Kubra. Ia mempunyai banyak murid yang kelak menjadi para wali. Beliau memberikan beberapa bentuk jalan kehidupan, ketika dia sedniri sedang meniti jalan menuju Allah Swt.
Beliau mengatakan, “Ada dua macam perjalanan manusia. Pertama perjalanan itu ialah perjalanan yang terpaksa, yang disebut safar qahri. Dan yang kedua, ialah perjalanan yang merupakan pilihan kita, atau yang disebut dengan safari ikhtiyari.” Artinya, ada perjalanan kita semua yang menuju Allah Swt tetapi dalam keadaan terpaksa; ada pula perjalanan kita yang menuju Allah dalam keadaan sukarela.
Al Qur’an Al Karim mengatakan : “Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah, dan semua akan kembali kepadaNYA” dan “Kepada Akulah semua akan kembali.” Dan itulah perjalanan yang tidak sukarela.
Masih menurut beliau, perjalanan yang tidak sukarela itu sendiri memiliki beberapa stasiun.
Pertama, ketika kita berada pada sulbi ayah kita.
Kedua, ketika kita berada pada rahim ibu.
Ketiga, ketika kita dilahirkan ke dunia ini dan
Keempat, alam kubur, yang menurut agama, alam itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga, atau bisa juga menjadi sumur-sumur neraka, bergantung kepada amal perbuatan kita di dunia ini.
Pada alam barzakh ini kita belum masuk surga atau neraka tetapi kita sudah berada dalam bayang-bayang keduanya.
Sedangkan tahap kelima, ialah saat kebangkitan yang menurut Syaikh Najmuddin Al Kubra, usianya sama dengan (lebih kurang) 5.000 tahun usia dunia ini. Itulah hari kebangkitan, ketika semua manusia dibangkitkan dari tidurnya yang panjang.
Menurut orang-orang sufi, kita semua tidak ingat lagi alam yang sebelum ini alam rahim, misalnya. Kita tidak ingat lagi suasana di alam rahim itu. Semua yang berada di alam rahim mempengaruhi tingkah laku kita sekarang ini; tetapi kita seakan-akan tidak mengalami dunia itu. Kita seakan-akan lahir ke dunia ini, kemudian kita menemukan alam kesadaran baru.
Begitu pula, ketika kita berada di alam barzakh, kita mulai sadar bahwa di alam inilah sebetulnya kehidupan yang sebenarnya itu. Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah mimpi saja. Suasana seperti baru kita sadari di alam barzakh itu.
Allah Swt berfirman : Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam. (QS. 50:22)
Kita merasakan alam barzakh itu sebagai permulaan kehidupan. Apa yang kita lakukan sekarang ini mempengaruhi suasana senang dan susah di alam barzakh nanti.
Ketika kita nanti dibangkitkan, kita merasa bahwa alam barzakh itu seperti mimpi yang panjang. Semua orang merasakan bahwa memang itulah kehidupan yang sebenarnya. Al Qur’an Al Karim melukiskan peristiwa itu dalam surah Yasin sbb :
Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul Rasul(Nya). (QS. 36:52)
Itulah alam kebangkitan yang panjangnya kira-kira sama dengan hitungan 5.000 tahun dunia ini. Hanya Allah Yang Maha Tahu, karena perhitungan panjang-pendeknya waktu itu sangat relatif, apalagi ketika menghadapi alam lain. Kita sangat susah menghitung berapa lama waktu itu.
Sayyidina Ali k.w. pernah meriwatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, jenazahnya terbujur, diadakan “upacara perpisahan” di alam ruh. Pertama-tama ruh dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayit itu mengatakan kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu itu sehingga akau lupa untuk mengabdi kepada Allah Swt., sampai aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini.” Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku itu kain kafanmu.” Jadi tinggal kain kafanlah yang dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.
Sesudah itu si mayit dihadapkan kepada seluruh keluarganya – anak-anaknya, suami atau istrinya – kemudiansi mayit berkata, ” Dahulu akau mencintai kamu, menjaga dan merawat kamu. Begitu susah payah aku mengurus dirimu, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang mau kalian bekalkan kepadaku pada perjalananku selanjutnya ?” Kemudian keluarganya mengatakan, “Aku antarkan kamu sampai ke kuburan.”
Setelah perpisahan itu, si mayit akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau orang yang meninggal ini adalah orang yang sering berbuat baik, beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makluk yang berwajah ceria, yang memandangnya menimbulkan kenikmatan, dan memancarkan aroma semerbak. Makhluk jelmaan itu kemudian mengajak si mayit pergi. Kemudian mayit itu berkata : “Siapakah Anda ini sebenarnya ? Saya tidak kenal dengan Anda.” Makhluk itu kemudian menjawab: “Akulah amal saleh kamu dan aku akan mengantarkan kamu sampai hari perhitungan (hisab) nanti.”
Bahwa amal-amal kita nanti akan berwujud, misalnya, sedekah yang sekarang ini tidak kita lihat wujudnya. Kita hanya mengenalnya sekarang ini sebagai sesuatu yang abstrak. Pekerjaan orang tersebut bisa kita lihat tapi wujudnya tidak dapat kita lihat. Yang menarik adalah bahwa amal saleh yang kita kerjakan akan selalu setia menemani kita sampai alam barzakh.
Tetapi amal jelek juga akan berwujud. Dia akan berwujud wajah yang menakutkan, dengan bau yang menyengat seperti bangkai, dan ia akan terus menemani kita sampai hari hisab nanti. Kemudian ketika amal buruk itu ditanya, “Siapakah Anda ini sebenarnya ?” Maka dia menjawab, “Saya adalah amal kamu yang jelek. Dan aku akan menemani kamu sejak alam barzakh sampai kebangkitan nanti.
Bayangkan perjalanan panjang yang ditemani makhluk yang mengerikan dan baunya bahkan melebihi bau bangkai. Padahal kalau kita lihat hadis-hadis Nabi, sedihnya seorang mayit ketika hendak meninggalkan keluarganya melebihi kesedihan seseorang yang harus meninggalkan keluarganya secara tiba-tiba, misalnya pergi ke luar negeri, atau mau pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Sang mayit pun akan berpisah dengan seluruh keluarganya bahkan dengan seluruh dunia ini yang pernah dihuninya setelah sekian lama. Setelah berpisah, dia akan hidup sendiri, dilanda kesepian yang luar biasa. Karena itu beruntunglah kalau dalam kesepian itu ia ditemani oleh teman-teman yang baik.
Itulah perjalanan yang mau tidak mau mesti kita jalani. Sesudah perjalanan itu kita memasuki tempat tinggal yang abadi. Tempat itu bisa merupakan kesenangan yang abadi, yaitu surga; tetapi tempat abadi itu juga bisa berwujud neraka yang mengerikan.
Selain perjalanan yang terpaksa (safar qahri), ada pula safar ikhtiyari, yaitu perjalanan yang merupakan pilihan kita. Kita bisa memilih berjalan atau tidak memilih berjalan. Perjalanan Ikhtiyari ini sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, perjalanan ruhani, atau perjalanan jiwa kita menuju Allah Swt. Dan itulah yang disebut As-Suluk ila Malikil Muluk (perjalanan menuju Raja segala raja). Dalam perjalanan ini kita akan melewati beberapa tahapan sama seperti kita akan melewati beberapa tahapan pada perjalanan qahri tadi.
Kedua, ialah perjalan fisik. Yaitu pindahnya Anda dari suatu kota ke kota lain. Islam sangat menganggap perjalana fisik ini. Dan bahkan mungkin hanya dalam Islam terdapat banyak anjuran mengenai pentingnya melakukan perjalanan. Seperti yang terdapat dalam QS. 6: 11; 16: 36; 27: 69; 29: 20; 30:42; semuanya mengatakan, “…..Adakanlah perjalanan dimuka bumi…”
Oleh karena itu, salah satu keutamaan haji adalah karena di dalam ibadah haji itu ada unsur safar yang dilambangkan dengan meninggalkan dunia menuju Rumah Allah, yaitu Baytullah.Tetapi haji itu juga mengandung safar ruhani. Jadi, ibadah haji memiliki dua safar sekaligus.
Dalam shalat, kita hanya mempunyai satu safar, yaitu safar ruhani, tidak safar jasmani. Ketika Anda berjalan untuk menuntut ilmu, Anda dianggap melakukan dua safar.
***
Dikutip tanpa izin dari Buku: Terbitan Mizan. Renungan Renungan Sufistik, Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat.