Kamis, 24 Oktober 2013
Wanita Dinikahi Karena 4 Perkara
Di nikahi wanita itu karena 4 macam :
1. Karena hartanya.
2. Karena kebangsawanannya/Kemuliaannya.
3. Karena Kecantikannya.
4. Karena Agamanya. Maka pilihlah karena Agamanya, akan beruntunglah kamu. (HR. Bukhari-Muslim)
Rabu, 23 Oktober 2013
Persiapan Sebelum Ajal Tiba
Ajal tak pernah
pilih pilih usia, besar kecil tua muda sehat ataupun sekarat siapa yang
berangkat lebih awal tak ada yang mengetahui. karena itu persiapkan diri kita
seblum Ajal menjemput.
semoga catatan ini menjadi pencerahan buat kita dan keluarga kita.
Kematian adalah perjalanan yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Perjalanan yang sangat jauh dan lama waktunya. Perjalanan yang membutuhkan bekal yang memadai, menuju negeri akhirat. Dalam perjalanan kita mesti melalui stasiun-stasiun dan jalan-jalan yang terjal dan sangat berbahaya. Kendaraannya harus bagus dan prima, dan bekalnya harus cukup dan memadai. Jika tidak, na’udzubillah, kita mohon perlindungan kepada Allah swt darinya.
Karenanya sebelum kematian menjemput kita, kita buat persiapan. Apa persiapan dan bekal yang paling utama?
semoga catatan ini menjadi pencerahan buat kita dan keluarga kita.
Kematian adalah perjalanan yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Perjalanan yang sangat jauh dan lama waktunya. Perjalanan yang membutuhkan bekal yang memadai, menuju negeri akhirat. Dalam perjalanan kita mesti melalui stasiun-stasiun dan jalan-jalan yang terjal dan sangat berbahaya. Kendaraannya harus bagus dan prima, dan bekalnya harus cukup dan memadai. Jika tidak, na’udzubillah, kita mohon perlindungan kepada Allah swt darinya.
Karenanya sebelum kematian menjemput kita, kita buat persiapan. Apa persiapan dan bekal yang paling utama?
Pertama:
Mengakui dosa-dosa, ketidakberdayaan di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, dan
penyesalan yang dalam. Agar taubat kita diterima dan sempurna. Penyesalan dan
taubat yang disertai dengan tangisan dan tetesan air mata di hadapan Allah Yang
Maha Suci. Agar Dia mengampuni salah dan dosa kita, menerima taubat kita.
Kedua:
Menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Lakukan sendiri, tidak diwakilkan
kepada orang lain.
Ketiga: Memperhatikan
dan memperdulikan wasiat. Tunaikan sendiri hak-hak Allah dan hak-hak manusia,
jangan diwakilkan kepada orang lain.
Keempat:
Persoalan harta. Harta pasti akan keluar dari tangan kita. Tunaikan sendiri,
jangan wakilkan pada orang lain atau ahli waris. Karena belum tentu mereka
memikirkan nasib kita di negeri Barzakh dan Akhirat. Mengapa? Karena manusia
dan setan akan selalu berbisik pada ahli waris agar tidak menunaikan hak-hak
yang berkatan dengan harta. Sementara jika ajal telah tiba semua itu sudah berada
di luar kemampuan dan kekuasaan kita. Saat itulah timbul penyesalan yang amat
sangat dalam seperti yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an:
“Ketika kematian
telah datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: Duhai Tuhanku,
kembalikan aku ke dunia agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang aku
tinggalkan.” (Al-Mu’minun: 99-100).
Maka ayat
tersebut telah disepakati bahwa penyesalan manusia di negeri Barzakh tak
berguna lagi. Dan yang dimaksud dengan amal yang belum ditunaikan dan
disesalkan adalah amal yang berkait dengan harta.
Penyesalan akan
bertambah dalam dan penderitaan semakin mencekam, saat ia menyaksikan harta
yang ditinggalkan pada anak dan keluarganya tak pernah dikeluarkan untuk
kebutuhan dirinya, bahkan digunakan pada kemaksiatan dan hal-hal yang dimurkai
oleh Allah swt. Ia pasti menangis dan menjerit pilu, menyesali hartanya.
Mengapa ia tidak menggunakan dan menghabiskan saat hidupnya untuk kepentingan
dirinya di negeri Barzakh dan Akhirat. Kisah ini banyak disebutkan dalam
hadis-hadis Nabi saw dan Ahlul baitnya (sa) bahwa orang yang seperti ini pasti
menangis, merintih dan menjerit pilu, khususnya setiap kamis sore hingga bakdah
shalat Jum’at. Karena saat-saat inilah dia diizinkan oleh Allah swt untuk
berkunjung kepada anak-anaknya dan keluarganya.
Ya Allah, ya Rahmân ya Rahîm, selamatkan kami dari penyesalan ini, penyesalan yang tak berguna dan tak berakhir.
Ya Allah, ya Rahmân ya Rahîm, selamatkan kami dari penyesalan ini, penyesalan yang tak berguna dan tak berakhir.
Kelima:
Mempersiapkan kain kafan berikut adab-adabnya. Misalnya kain kafan yang
dituliskan teks kalimat syahadah, nama2 orang suci, asma2 Allah, doa Jawsyan
Kabir (1000 asma Allah). Sebagai catatan penting: jangan ditulis dengan tinta
berwarna hitam.
(Disarikan dari kitab Al-Bâqiyâtus Shâlihât, bab 6: 532-533)
Senin, 21 Oktober 2013
Menempuh Perjalanan Jauh Di Akhirat
Suatu kehidupan yang jauh lebih berat dari kehidupan di Dunia. Pada hari kiamat, kelak di langit akan benar- benar diperlihatkan proses menutupnya Pintu Tobat, pintu tersebut akan menutup sebagai tanda bahwa pada hari itu Allah sudah tidak mau mendengar tobat kita lagi. Kemudian malaikat Isrofil akan meniup sangkakalanya, lalu bergeming dan musnahlah apa yang ada di Dunia ini, baik itu manusia maupun bangsa Jin. Malaikat Isrofil pun juga akan mati setelah ia meniup sangkakalanya.
Kemudian seluruh makhluk yang ada di
Bumi ini, baik bangsa Jin, manusia, dan hewan pun akan dibangkitkan kembali dan
digiring secara berkelompok- kelompok menuju Padang Mahsyar. Suatu tempat
berpasir putih yang datar, luas dan sangat panas, dimana jarak matahari hanya sejengkal
dari ubun- ubun kita (saat dimana semua keringat akan bercucuran sebanyak dosa2
yang kita miliki). Bahkan kelak akan ada yang tenggelam karena keringatnya
sendiri. ‘Pada hari itu manusia berkata : “Kemana tempat lari.?” Sekali- kali
tidak.! Tidak ada tempat untuk berlindung.!” (Q.S Al Qiyamah 10- 11).
Di Padang Mahsyar itu pula, Nabi Muhammad SAW
berdiri di sebuah telaga dengan membawa sebuah cangkir, kemudian beliau akan
meminumkan cangkir berisi air telaga tersebut kepada umat- umatnya yang kepanasan
lagi kehausan, yang senantiasa ‘membaca sholawat’ untuknya sewaktu masih di
Dunia. Kelak bukan kita yang akan mencari Nabi Muhammad, tapi beliau lah yang
akan mencari dan memberikan pertolongan (syafaatnya) kepada kita. “Wajah- wajah
(orang mukmin) pada hari itu berseri- seri”. “Dan wajah- wajah (orang kafir)
pada hari itu muram” (Q.S Al Qiyamah 22- 24).
Setelah itu, semua manusia, bahkan para
nabi dan rosul akan berjalan menuju ‘Jembatan Shiratal Mustaqim’. Jembatan
akhirat yang sangat tipis, bagaikan sehelai rambut yang dibagi menjadi 7
bagian, tajam, sempit, dan terbentang diantara 2 punggung neraka Jahannam, yang
panjangnya ditempuh selama 1/2 tahun akhirat (500 tahun di dunia). Diatasnya
terdapat besi- besi panas yang saling berkaitan dan akan menyambar siapa saja
yang menyeberanginya. Dan jika kita gagal menyeberangi jembatan tsb, maka kita
akan langsung terpelanting ke Neraka Jahannam. MasyaAllah…
Setiap manusia akan menemui kesulitan atau bahkan
kemudahan saat melewati jembatan tersebut. Kelak akan ada yang bersusah payah
untuk menyeberangi jembatan tersebut, ada yang langsung terpeleset lalu jatuh
terbakar ke Neraka. Namun ada pula yang akan menyeberangi jembatan tersebut
bagaikan kilat yang menyambar. Semua ditentukan oleh perbuatan- perbuatan dan
amal shalih kita waktu masih di Dunia. Jika selama hidupnya ia banyak beramal
shalih, maka ia akan mudah melewatinya. Sesungguhnya hanya satu jalan menuju
Surga, yaitu dengan melewati Jembatan Shiratal Mustaqim.
Untuk
menempuh perjalanan seberat itu, hanya 2 yang kita butuhkan, yaitu : syafaat/
pertolongan dari Nabi Muhammad (diperoleh dengan senantiasa membaca sholawat
& melaksanakan sunah2nya), serta Amal2 sholih kita (diperoleh dengan banyak
sholat, dzikir, sedekah, puasa, dll). Selain itu, tidak ada yang bisa menolong
kita kelak.
Jika kita berpikir cerdas ke depan, ‘Akhirat
merupakan kelanjutan dari kehidupan di Dunia, jadi jika kita ingin mendapatkan
tempat yang baik di Akhirat, maka perbaikilah hidup kita di dunia terlebih
dahulu. Hidup di dunia ini hanyalah sebuah ‘PERMULAAN’, lalu kematian barulah
‘AWAL DARI SEGALANYA’, kemudian kehidupan di Akhirat itulah ‘KEHIDUPAN YG
SEBENARNYA’. ‘Mengejar urusan Dunia itu harus, tapi beribadah untuk mendapatkan
Akhirat itu wajib’.
Semoga artikel ini dapat membuka tirai kehidupan
yang masih terselubung. Membuat kita menjadi orang- orang yang senantiasa
berpikir cerdas, yang tak hanya memegang urusan dunia, tapi juga menggapai
urusan Akhirat. Saya berharap kita tak hanya dipertemukan di Dunia ini saja,
tapi juga dipertemukan kembali pada Hari Akhir, saat dimana kita bisa saling
bergandengan tangan dan berjalan bersama- sama menuju Gerbang Surga. Amiin..
Minggu, 20 Oktober 2013
Hidupmu Sebelum Tiba Kematianmu
“ Pergunakan
lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain: masa mudamu sebelum datang
masa tuamu, masa kayamu sebelum tiba miskinmu, masa sehatmu sebelum datang masa
sakitmu, dan hidupmu sebelum tiba kematianmu” (HR. Bayhaqi)
Mati adalah
suatu ketetapan dari Allah SWT kepada setiap makhluk yang bernyawa. Bila
seorang sudah diputuskan untuk mati oleh Allah SWT, maka matilah dia tanpa
dapat menghindar, tanpa bisa ditunda-tunda, atau bahkan dimajukan. Ia akan mati
dalam keadaan apapun, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka. Sebaliknya,
keinginan seseorang untuk mati, dalam keadaan yang galibnya bisa menimbulkan
kematian sekalipun, bila Allah SWT belum metentukan ajal untuknya, maka ia tetap
tidak akan mati.
“Sesuatu yang
bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izi Allah sebagai ketetapan yang
tertentu waktunya” (Ali Imran 145)
“.. Tuhanku
ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan” (Al Baqarah 258)
“Dimana saja
kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada didalam
benteng yang kokoh” (An Nisaa’ 78)
“Katakanlah,
sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian
itu akan menemui kamu” (Al Jumu’ah 8)
“Maka jika telah
datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak
dapat memajukannya” (al-A’raf 34)
PERSIAPAN
SEBELUM AJAL TIBA, Jaga dan Upgrade Iman dan Taqwa
Karena
pada dasarnya iman seseorang itu kadang naik dan kadang turun;
“Iman itu kadang
naik kadang turun, maka perebaharuilah iman kalian dengan la ilaha ilallah” (HR
Ibn Hibban)
Sebagai
Muslim/ah kita wajib menjaga iman kita agar tetap eksis, agar tetap mengakar di
hati sanubari sampai akhir hayat. Tentang wajibnya menjaga iman, Allah telah
berfirman dalam QS Al-Imran:102
“Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar- benar
takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama
Islam”
Bukti seorang
yang beriman adalah taqwa, sedangkan kadar taqwa dapat diketahui dari
seberapa taat kita kepada aturan dan hukum Allah SWT yaitu Islam.
Dengan menjaga
ketaatan kita kepada aturan Islam, maka ketika ajal tiba sudah ada modal bagus
untuk kita bawa di alam berikutnya.
Iman dan taqwa
yang terealisasikan dengan taat kepada aturan Islam akan mudah untuk kita jaga
dan upgrade ketika kita senantiasa mengingat kematian. Orang yang senantiasa
ingat akan mati, ia akan senantiasa hati-hati dalam setiap pikiran, ucapan, dan
perbuatannya.
“Secerdik-cerdik
manusia adalah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak
persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang
benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan
dunia serta kemuliaan akhirat” (HR. Ibnu Majah)
Penyesalan itu
selalu datang di belakang, kesempatan itu sangat jarang dan hampir tidak datang
kedua kalinya. Ketika gelar almarhum sudah disandang, disitulah akhir dari
semua kesempatan. Putuslah semua amal kita kecuali sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfat, dan doa anak sholeh. Saat itu penyesalan yang amat sangat dalam pun
tidak akan membantu kita sedikitpun.
Persiapan Sebelum Ajal Tiba, Jauhkan Diri dari Maksiat dan Mara Bahaya
Apa jadinya
ketika kita sedang asik maksiat, dengan tidak diduga Izroil mencabut ruh kita ?
Naudzubillahi mindzalik… Sungguh ini termasuk cara mati yang sangat buruk
(su’ul khatimah)
Secara sengaja
menuju keadaan yang membahayakan keselamatan jiwa seperti berkendara
ugal-ugalan, bencana alam dsb sama saja bunuh diri. Dan dalam Islam bunuh diri
itu sangat dilarang.
Langganan:
Postingan (Atom)



